Oleh: Irhamni Emza,S.Ag
Allah telah membuatku menyayangi dari duniamu
Kaum wanita dan wewangian
Dan kebahagiaan bagi mataku adalah ketika shalat
Perkataan Nabi Muhammad ini telah sangat sering dikutip- jadi, bagaimana mungkin Islam bisa dikenal sebagai agama yang berpandangan negative terhadap kaum wanita? Selain itu, selama berabad-abad dan di bawah pengaruh gerakan legalistic dan asketik yang semakin meningkat, wanita dalam Islam telah dipindahkan ke posisi yang jauh dari kedudukan yang dikenalnya dan yang dinikmatinya di masa-masa Nabi dan para pengganti beliau.
Inilah sebabnya mengapa kita tidak mungkin mengabaikan peranan yang dimainkan oleh istri pertama Nabi, Khadijah, ketika mendefinisikan posisi wanita dalam Islam. Wanita pedagang yang janda ini telah menjadi ibu dari beberapa orang anak ketika dia melamar rekan kerjanya yang jauh lebih muda, Muhammad, dan kemudian melahirkan anak-anaknya. Dia pulalah orang yang menentramkan hati dan mendukungnya setelah Nabi mengalami penampakan dan menerima wahyu-wahyu yang diterimanya di gua Gunung Hira ketika dia berkhalwat di sana bukanlah ulah setan, melainkan berasal dari Tuhan. Khadijah pantas memandang gelar ibu Kaum beriman dan Wanita terbaik, khair an-nisa’ (yang disebut terakhir ini tetap merupakan nama kesayangan bagi kaum wanita). Kaum Muslim modern, termasuk mayoritas Kaum Muslim wanita, berulang-ulang menekankan sumbangannya yang sangat penting bagi sejarah awal Islam. Dia sangat mencintai Muhammad, dan baru setelah Khadijah meninggal pada tahun 169H-dan setelah lebih dari seperempat abad hidup bersama-sama, _ Muhammad secara lambat laun dan sejalan dengan berlalunya waktu menikahi sejumlah wanita lain.
Di antara istri-istrinya setelah khadijah adalah Aisyah yang masih muda, putri sahabatnya yang setia, Abu Bakar. Wanita –wanita lainya adalah para janda yang ditinggal mati suami atau yang diceraikan, bahkan sebagian di antaranya bekas budak. Fakta ini menjadi argument yang sangat penting yang mendukung perkawinan kembali janda-janda di kalangan kaum modernis di India pada abad kesembilan belas dan kedua puluh. Kepatuhan mereka pada adat-istiadat Hindu telah membuat kaum muslimin India menghindari perkawinan kembali untuk waktu lama., namun bagaimana mungkin mereka terus melakukan tindakan yang begitu bertentangan dengan contoh yang diberikan sendiri oleh Nabi?
Istri-istri Nabi setelah Khadijah selanjutnya juga diberi gelar Ibu Kaum Beriman. Al-Qur’an (QS 24: 30) memperingatkan mereka untuk “menutupi perhiasan mereka”, suatu peraturan yang mungkin dimaksudkan untuk membedakan mereka, sebagai wanita-wanita terhormat, dari wanita-wanita kelas rendah yang berpakaian lebih terrbuka. Penyembunyiannya diri karena terdorong oleh kesederhanaan kemudian menjadi suatu kehormatan dan tidak dianggap sebagai kendala. Setelah waktu berlalu dan akibat terjadinya berbagai perubahan sosial barulah aturan mengucilkan menjadi lebih ketat. Secara umum, aturan-aturan tersebut diterapkan paling keras kepada para wanita sayyid, yaitu mereka yang leluhurnya dapat dilacak sampai kepada Nabi dan putrinya, Fatimah. Wanita-wanita ini juga harus mematuhi berbagai tabu, setidaknya di dunia Indo-Pakistan.
Namun di masa-masa awal Islam, kaum wanita secara aktif terlibat dalam segala aspek kehidupan sosial dan permasalahan umat. Aisyah biasa membahas masalah-masalah yang timbul dari tradisi dengan para sahabat Nabi, dan bukan hanya dengan mereka saja. Jadi, kita harus berterima kasih kepadanya untuk pengetahuan kita tentang berkaitan dengan kehidupan pribadi Nabi Muhammad. Pada tahun 656H dia benar-benar terjun sendiri ke medan perang untuk melawan Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya. Tradisi Sunni membanggakan aktifitas-aktifitas Aisyah, dan orang tak bosan-bosannya mengutip panggilan lembut Muhammad kepada istrinya yang masih muda itu-kallimi ya humaira, “Berbicaralah padaku, gadis kecilku yang kemerah-merahan,’ (M I 1972, cf. M VII,hlm. 134) – sebab wanita muda itu selalu dapat menggembirakan hatinya,. Para ahli mistik, tentu saja menafsirkan kata-kata Nabi yang lembut itu sebagai panggilan dari sang keksih kepada Ruh Ilahi, yang kepadanya dia ingin berbicara sebagai kekasihnya- pria maupun wanita.
Namun Aisyah tidak di sukai dalam tradisi Syiah sebab dia menentang Ali, saudara sepupu dan menantu Nabi, yang oleh kaum Syiah dihormati sebagai imam yang pertama. Pemimpin umat yang sejati. Menurut syiah Ali seharusnya menjadi pengganti Muhammad yang sah setelah beliau wafat, sedangkan ayah Aisyah, Abu Bakar, memerintah pada tahun 632-634H, dianggap sebagai perebut tahta kekhalifahan. Yang membuat hubungan semakin memburuk antara Aisyah dan Ali. Ketika Ali mengucapkan komentar negatif tentang wanita itu ketika dia kehilangan kalungnya dalam suatu perjalanan dan diantar kembali ketengah kafilah oleh seorang pemuda. Namun keragu-raguan mengenai kehormatannya segera dihilangkan oleh turunnya wahyu (QS 24:11). Sikap Aisyah terhadap Ali, yang dihadapinya dalam perang unta yang terjadi pada 656H seperti dikemukakan di atas, menambah perasaan negatif kaum Syi’ah terhadapnya. Namanya, yang begitu sering dipakai sebagai nama seorang wanita di lingkungan sunni, tidak pernah digunakan dikalangan Syiah. Dalam literatur kaum Nusairi, Aisyah bahkan dibandingkan dengan sapi kekuning-kuningan, kurban yang diserahkan kepada Musa dalam QS 2: 67-72.
Nabi mempunyai empat orang anak perempuan. Mempunyai anak perempuan tidak lagi dianggap tercela, seperti dilingkungan Arabia pra-Islam, yang sebelumnya biasa mengubur hidup-hidup apa yang mereka anggap gadis-gadis tak berguna. Praktik tak bermoral ini dikecam dengan jelas dalam QS 81: 8. Penghargaan baru kepada anak-anak perempuan itu tercermin dalam kenyataan bahwa kaum pria mulai menggunakan kinyah baru,suatu gelar atau “nama kehormatan”. Tidak lagi menyebut diri ayah (si buyung) Thalhah” atau yang semacam itu, mereka kini mulai menyebut diri mereka Abu Laila, Abu Raihana, “ayah dari (si upik) Laila, ayah dari (si upik) Raihana, dan seterusnya. Mereka melakukan hal itu sebab, seperti dikemukakan dalam hadits tidak ada aib jika seseorang mempunyai anak perempuan. Bahkan ada sebuah tradisi untuk mengucapkan selamat kepada sang ayah, dengan alasannya mungkin akan mengejutkan pembaca modern : seorang anak perempuan dapat mendatangkan tujuh anak laki-laki ke dunia.
Tiga dari anak Nabi meninggal semasa hidupnya.: Zainab, Ruqayyah, Ummu kultsum. Dua yang disebut terahir itu pada mulanya kawin dengan putra-putra Abu Lahab menjadi musuh Nabi yang paling sengit ( bahkan dikutuk dalam Al-Qur’an [ QS”111]). Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga ( pengganti Muhammad dari tahun 644-656H),mengambil dua-duanya sebagai istri. Karena perkawinan dengan dua saudara itu dilarang, dia mengawini yang satu setelah yang lain, dan inilah sebabnya ia menyandang nama sendiran, “pemilik dua cahaya”. Ini pula sebabnya gabungan nama-nama Osman Nuri, masih tetap popular, terutama di turki.
Yang paling muda dari anak-anak perempuan Nabi, Fathimah, hidup lebih lama beberapa bulan daripada ayahnya. Dia kawin dengan sepupu Muhammad, Ali bin Abi Thalib, dan melahirkan dua orang putra. Kedua anak laki-laki ini menjadi cucu kesayangan Nabi, seperti yang diceritakan dalam legenda-legenda kasih sayang dan syair rakyat. Nabi sering melewatkan saat-saat menyenangkan dengan bermain bersama mereka. Hasan yang tua di antara keduanya, meninggal sekitar tahun 669H, barangkali diracun. Adiknya Husen syahid pada tahun 680H dalam perang karbala melawan pasukan khalifah dari dinasti Umayyah, Yazid. Dinasti Umayyah merebut kekhalifahan pada tahun 661H setelah menbunuh Ali, dan Husen berusaha untuk merebut kembali kekuasaan itu untuk keluarga Nabi setelah Yazid, penguasa Umayyah kedua, menduduki kekuasaan tersebut. Tragedi Karbala di Irak, terjadi pada hari kesepuluh di bulan Muharram, (bulan qamariyah pertama) menjadi pengaruh sangat besar pada ajaran Syiah. Dan jika syair-syair dari kalangan umat Islam memuliyakan cucu Nabi sebagai pahlawan yang agung, sebagai syahid yang utama, maka Fathimah pun diberi kedudukan istimewa sebagai mater dolorosa. Meskipun sudah meninggal hampir limapuluh tahun setelah kematian putranya yang kedua, Fathimah mendapat penghormatan lebih tinggi di banding semua yang lainnya bagi kaum syiah, setelah Muhammad dan Ali julukan-julukannya, termasuk Az-Zahra, yang cemerlang : Batul, Perawan, Kaniz, Gadis, Ma’shumah. Terlindung dari dosa. Dan banyak lagi yang menjadi nama-nama yang sangat popular bagi gadis-gadis dari kalangan syiah. Lagi pula, dia bukan hanya perantara bagi semua orang yang meratapi putranya, Husen tapi dalam lingkungan spekulasi mistik, dia juga di anggap sebagai “ummu abihah”, ibu dari ayahnya.
Kisah demi kisah diceritakan tentang Fathimah. Cerita-cerita tentang kemiskinan yag dideritanya,secara khusus melambangkan fantasi dari orang-orang sholeh, yang bagi mereka sesungguhnya, dia merupakan ratu ummat manusia. Sebuah genre sastra yang dikenal sebagai “Mahar Fathimah” (jihaznama-I Fathimah) menyebutkan satu dari satu barang-barang sederhana yang dapat diberikan kepada ayahnya sebagai maskawin, kedermawanannya kepada kaum miskin (bahkan ketika keluarganya sendiri tengah kelaparan), keinginan putranya sendiri untuk memiliki pakaian- dan semua ini diceritakan dan terus dibumbui, sehingga fathimah menjadi teladan bagi gadis-gadis muslim. Sesunguhnya di Abad pertengahan, bahkan ada sebuah madzhab yang menyerahkan seluruh kekayaan keluarga mereka kepada anak-anak perempuan sebagai warisan.- dan semua itu sebagai penghormatan untuk Fathimah. Pemuliaan terhadapnya juga menonjol di kalangan sunni. Apakah kita akan membaca karya penghormatan Muhammad Iqbal (1877-1938M) kepada Fathimah ke dalam epik Persianya yang ditulis pada tahun 1927M Rumuz-ibe-khudi (Misteri sikap tidak mementingkan diri) (sebuah buku yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan mengenai sikap-sikapnya sebagai penganut ajaran Sunni), atau apakah kita membaca karya ‘Ali Syari’ati, Fathimah adalah Fathimah, yang muncul pada masa revolusi Iran- yang kita dengar adalah kata-kata pujian yang sangat menyentuh hati untuk wanita muslim yang paling dihormati dan paling saleh. Hanya satu orang keturunan dari kedua putranya yang dapat menyatakan dirinya sebagai sayyid, sebab hak ini tidak diberikan kepada keturunan anak-anak Ali yang lain dan istri-istrinya yang lain.
Hampir semua orang akan setuju dengan Sana’I (w.1131 di Ghazna, kini Afganistan), yang bernyanyi:
Dunia ini penuh dengan kaum wanita
Namun dimanakala ada seorang wanita seperti Fathimah
Wanita yang paling baik?
Sebab nama penghormatan wanita paling baik, khairun-nisa’, di kemudian hari diberikan bukan hanya kepada Khadijah melaikan juga kepada anak perempuannya yang bungsu ini.
Dilingkungan para ahli mistik juga ada orang-orang yang menganggap nama Maskulin, Fathir, sebagai “nama ilahiyah” yang pantas untuk Fathimah.
Berbagai sumber menceritakan banyak wanita yang dekat dengan Nabi. Beberapa di antara mereka pindah bersama keluarga mereka ke Etiopia pada tahun-tahun awal Islam. Sementara yang lain-lainnya seperti “ummu ‘Athiyah”, menemani Muhammad dan pasukannya dalam sejumlah peperangan dan merawat orang yang terluka. Juga dapat dimengerti, tentu saja, bahwa mereka ikut serta melakukan shalat di masjid. Sebab sebuah hadits menyatakan, “janganlah mencegah gadis-gadis pelayan Tuhan untuk memasuki tempat-tempat di mana Dia di sembah.” Bahkan khalifah kedua , Umar bin Khattab (memerintah 634-644H),harus menerima tradisi ini, meskipun tidak dengan senang hati. Penguasa ini dikenal karena kekerasan dan keadilannya yang mestinya lebih cenderung membela kaum wanita. Lagi pula, saudarinya telah memeluk agama Islam ketika dia masih menjadi penentang Nabi yang sangat gigih. Namun, ketika dia berniat membunuh gadis itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hatinya begitu bergerak oleh kata-kata yang dilantunkan adiknya sehingga dia segera menerima Islam. Dan selanjutnya dia menjadi pembela agama Islam yang paling bersemangat. Bahkan Rumi menceritakan secara panjang lebar perubahan sikap ini dalam karya prosanya, Fihi ma fihi.
Beberapa keturunan wanita lainnya dari Muhammad juga dikenal karena kesalihan mereka. Salah seorang dari mereka, Sayyidah Nafisah, sangat pantas untuk dikemukakan, buyut perempuan Nabi ini menikah denganputra imam keenam, Ja’far Ash-Shadiq (w. 765), dan pergi ke Kairo dengan saudara sepupunya, Sakinah.Di sana dia segera dikenal karena kesalihan esketisnya. Ahli sejarah Ibn Khallikun meriwayatkan dalam biografinya bahwa bahkan Imam Syafi’I, pendiri salah satu dari empat madzhab fiqih, dikatakan pernah membaca doa bersamanya. Berbagai mukjizat dengan sendirinya selalu menemaninya kemana pun dia pergi. Menurut salah satu cerita, air yang telah digunakannya untuk berwudlu dapat menyembuhkan seorang wanita Yahudi yang lumpuh. Ketika Nafisa meninggal pada 208/824H, sebuah makam yang indah dibangun untuk mengenangnya. Dan tempat itu dapat merupaka tujuan ziarah yang popular hingga sekarang. Di abad pertengahan, terutama pada periode Mamluk, para sultan merayakan hari kelahirannya secara besar-besaran di dalam Benteng Kairo.
Sejak semula perkataan Nabi yang dikutip pada awal bab ini dan juga banyaknya perkawinan yang di jalaninya. Menimbulkan ketidaksetujuannya dikalangan para ahli teologi Kristen- dan bukan hanya para ahli teologi saja. Bagaimana mungkin seorang pria menyatakan dirinya sebagai Nabi membiarkan dirinya tenggelam dalam hawa nafsu? Gagasann ini benar-benar mengerikan jika dihadapkan pada ajaran Kristen mengenai kesucian, pada ajaran salibat yang sejak pada masa awal dan selanjutnya berakar begitu kuat di dalam gereja. Namun kaum Muslim tidak melihat adanya kejahatan dalam hal ini. Sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai suatu ungkapan kegembiraan yang dapat ditemukan manusia di dunia indra,yang merupakan bagian dari ciptaan Tuhan.
Sebuah tafsir Indo-Muslim atas perkataan Nabi mengenai “kaum wanita” dan tafsir yang berasal dari orang suci besar dari Delhi,Nizamuddin Auliya, menyatakan bahwa kaum wanita, di sini mengacu secara khusus pada Aisyah, sedangkan “kebahagiaan bagi mataku” dikatakan sebagai acuan untuk Fathimah, yang sedang asyik shalat pada saat itu, (dan kebahagiaan bagi mataku [ yaitu Fathimah] ketka shalat).ini nampaknya lebih melantur, dan kita lebih mudah tergoda untuk mempercayai tafsir ibn ‘Arabi, yang mengatakan bahwa Nabi tidak menyayangi kaum wanita dikarnakan alasan-alasan alamiyah- tentu tidak dia menyayangi mereka karena Tuhan membuat mereka patut di sayang. Namun yang paling penting acuan pada wewangian, yang sering dikaitkan dengan unsure feminin di satu fihak dan kesucian difihak lain. Sebagai konsep maskulin tunggal dalam bahasa Arab, kata “wewangian” dalam perklataan ini di sisipkan antara dua kata benda feminine “kaum wanita” dan “salat”. Pengamatan ini sudah cukup memberikan kepada para sufi santapan yang tak habis-habisnya bagi pemikiran mengenai hubungan yang misterius ini.
Kaum wanita dan wewangian
Dan kebahagiaan bagi mataku adalah ketika shalat
Perkataan Nabi Muhammad ini telah sangat sering dikutip- jadi, bagaimana mungkin Islam bisa dikenal sebagai agama yang berpandangan negative terhadap kaum wanita? Selain itu, selama berabad-abad dan di bawah pengaruh gerakan legalistic dan asketik yang semakin meningkat, wanita dalam Islam telah dipindahkan ke posisi yang jauh dari kedudukan yang dikenalnya dan yang dinikmatinya di masa-masa Nabi dan para pengganti beliau.
Inilah sebabnya mengapa kita tidak mungkin mengabaikan peranan yang dimainkan oleh istri pertama Nabi, Khadijah, ketika mendefinisikan posisi wanita dalam Islam. Wanita pedagang yang janda ini telah menjadi ibu dari beberapa orang anak ketika dia melamar rekan kerjanya yang jauh lebih muda, Muhammad, dan kemudian melahirkan anak-anaknya. Dia pulalah orang yang menentramkan hati dan mendukungnya setelah Nabi mengalami penampakan dan menerima wahyu-wahyu yang diterimanya di gua Gunung Hira ketika dia berkhalwat di sana bukanlah ulah setan, melainkan berasal dari Tuhan. Khadijah pantas memandang gelar ibu Kaum beriman dan Wanita terbaik, khair an-nisa’ (yang disebut terakhir ini tetap merupakan nama kesayangan bagi kaum wanita). Kaum Muslim modern, termasuk mayoritas Kaum Muslim wanita, berulang-ulang menekankan sumbangannya yang sangat penting bagi sejarah awal Islam. Dia sangat mencintai Muhammad, dan baru setelah Khadijah meninggal pada tahun 169H-dan setelah lebih dari seperempat abad hidup bersama-sama, _ Muhammad secara lambat laun dan sejalan dengan berlalunya waktu menikahi sejumlah wanita lain.
Di antara istri-istrinya setelah khadijah adalah Aisyah yang masih muda, putri sahabatnya yang setia, Abu Bakar. Wanita –wanita lainya adalah para janda yang ditinggal mati suami atau yang diceraikan, bahkan sebagian di antaranya bekas budak. Fakta ini menjadi argument yang sangat penting yang mendukung perkawinan kembali janda-janda di kalangan kaum modernis di India pada abad kesembilan belas dan kedua puluh. Kepatuhan mereka pada adat-istiadat Hindu telah membuat kaum muslimin India menghindari perkawinan kembali untuk waktu lama., namun bagaimana mungkin mereka terus melakukan tindakan yang begitu bertentangan dengan contoh yang diberikan sendiri oleh Nabi?
Istri-istri Nabi setelah Khadijah selanjutnya juga diberi gelar Ibu Kaum Beriman. Al-Qur’an (QS 24: 30) memperingatkan mereka untuk “menutupi perhiasan mereka”, suatu peraturan yang mungkin dimaksudkan untuk membedakan mereka, sebagai wanita-wanita terhormat, dari wanita-wanita kelas rendah yang berpakaian lebih terrbuka. Penyembunyiannya diri karena terdorong oleh kesederhanaan kemudian menjadi suatu kehormatan dan tidak dianggap sebagai kendala. Setelah waktu berlalu dan akibat terjadinya berbagai perubahan sosial barulah aturan mengucilkan menjadi lebih ketat. Secara umum, aturan-aturan tersebut diterapkan paling keras kepada para wanita sayyid, yaitu mereka yang leluhurnya dapat dilacak sampai kepada Nabi dan putrinya, Fatimah. Wanita-wanita ini juga harus mematuhi berbagai tabu, setidaknya di dunia Indo-Pakistan.
Namun di masa-masa awal Islam, kaum wanita secara aktif terlibat dalam segala aspek kehidupan sosial dan permasalahan umat. Aisyah biasa membahas masalah-masalah yang timbul dari tradisi dengan para sahabat Nabi, dan bukan hanya dengan mereka saja. Jadi, kita harus berterima kasih kepadanya untuk pengetahuan kita tentang berkaitan dengan kehidupan pribadi Nabi Muhammad. Pada tahun 656H dia benar-benar terjun sendiri ke medan perang untuk melawan Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya. Tradisi Sunni membanggakan aktifitas-aktifitas Aisyah, dan orang tak bosan-bosannya mengutip panggilan lembut Muhammad kepada istrinya yang masih muda itu-kallimi ya humaira, “Berbicaralah padaku, gadis kecilku yang kemerah-merahan,’ (M I 1972, cf. M VII,hlm. 134) – sebab wanita muda itu selalu dapat menggembirakan hatinya,. Para ahli mistik, tentu saja menafsirkan kata-kata Nabi yang lembut itu sebagai panggilan dari sang keksih kepada Ruh Ilahi, yang kepadanya dia ingin berbicara sebagai kekasihnya- pria maupun wanita.
Namun Aisyah tidak di sukai dalam tradisi Syiah sebab dia menentang Ali, saudara sepupu dan menantu Nabi, yang oleh kaum Syiah dihormati sebagai imam yang pertama. Pemimpin umat yang sejati. Menurut syiah Ali seharusnya menjadi pengganti Muhammad yang sah setelah beliau wafat, sedangkan ayah Aisyah, Abu Bakar, memerintah pada tahun 632-634H, dianggap sebagai perebut tahta kekhalifahan. Yang membuat hubungan semakin memburuk antara Aisyah dan Ali. Ketika Ali mengucapkan komentar negatif tentang wanita itu ketika dia kehilangan kalungnya dalam suatu perjalanan dan diantar kembali ketengah kafilah oleh seorang pemuda. Namun keragu-raguan mengenai kehormatannya segera dihilangkan oleh turunnya wahyu (QS 24:11). Sikap Aisyah terhadap Ali, yang dihadapinya dalam perang unta yang terjadi pada 656H seperti dikemukakan di atas, menambah perasaan negatif kaum Syi’ah terhadapnya. Namanya, yang begitu sering dipakai sebagai nama seorang wanita di lingkungan sunni, tidak pernah digunakan dikalangan Syiah. Dalam literatur kaum Nusairi, Aisyah bahkan dibandingkan dengan sapi kekuning-kuningan, kurban yang diserahkan kepada Musa dalam QS 2: 67-72.
Nabi mempunyai empat orang anak perempuan. Mempunyai anak perempuan tidak lagi dianggap tercela, seperti dilingkungan Arabia pra-Islam, yang sebelumnya biasa mengubur hidup-hidup apa yang mereka anggap gadis-gadis tak berguna. Praktik tak bermoral ini dikecam dengan jelas dalam QS 81: 8. Penghargaan baru kepada anak-anak perempuan itu tercermin dalam kenyataan bahwa kaum pria mulai menggunakan kinyah baru,suatu gelar atau “nama kehormatan”. Tidak lagi menyebut diri ayah (si buyung) Thalhah” atau yang semacam itu, mereka kini mulai menyebut diri mereka Abu Laila, Abu Raihana, “ayah dari (si upik) Laila, ayah dari (si upik) Raihana, dan seterusnya. Mereka melakukan hal itu sebab, seperti dikemukakan dalam hadits tidak ada aib jika seseorang mempunyai anak perempuan. Bahkan ada sebuah tradisi untuk mengucapkan selamat kepada sang ayah, dengan alasannya mungkin akan mengejutkan pembaca modern : seorang anak perempuan dapat mendatangkan tujuh anak laki-laki ke dunia.
Tiga dari anak Nabi meninggal semasa hidupnya.: Zainab, Ruqayyah, Ummu kultsum. Dua yang disebut terahir itu pada mulanya kawin dengan putra-putra Abu Lahab menjadi musuh Nabi yang paling sengit ( bahkan dikutuk dalam Al-Qur’an [ QS”111]). Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga ( pengganti Muhammad dari tahun 644-656H),mengambil dua-duanya sebagai istri. Karena perkawinan dengan dua saudara itu dilarang, dia mengawini yang satu setelah yang lain, dan inilah sebabnya ia menyandang nama sendiran, “pemilik dua cahaya”. Ini pula sebabnya gabungan nama-nama Osman Nuri, masih tetap popular, terutama di turki.
Yang paling muda dari anak-anak perempuan Nabi, Fathimah, hidup lebih lama beberapa bulan daripada ayahnya. Dia kawin dengan sepupu Muhammad, Ali bin Abi Thalib, dan melahirkan dua orang putra. Kedua anak laki-laki ini menjadi cucu kesayangan Nabi, seperti yang diceritakan dalam legenda-legenda kasih sayang dan syair rakyat. Nabi sering melewatkan saat-saat menyenangkan dengan bermain bersama mereka. Hasan yang tua di antara keduanya, meninggal sekitar tahun 669H, barangkali diracun. Adiknya Husen syahid pada tahun 680H dalam perang karbala melawan pasukan khalifah dari dinasti Umayyah, Yazid. Dinasti Umayyah merebut kekhalifahan pada tahun 661H setelah menbunuh Ali, dan Husen berusaha untuk merebut kembali kekuasaan itu untuk keluarga Nabi setelah Yazid, penguasa Umayyah kedua, menduduki kekuasaan tersebut. Tragedi Karbala di Irak, terjadi pada hari kesepuluh di bulan Muharram, (bulan qamariyah pertama) menjadi pengaruh sangat besar pada ajaran Syiah. Dan jika syair-syair dari kalangan umat Islam memuliyakan cucu Nabi sebagai pahlawan yang agung, sebagai syahid yang utama, maka Fathimah pun diberi kedudukan istimewa sebagai mater dolorosa. Meskipun sudah meninggal hampir limapuluh tahun setelah kematian putranya yang kedua, Fathimah mendapat penghormatan lebih tinggi di banding semua yang lainnya bagi kaum syiah, setelah Muhammad dan Ali julukan-julukannya, termasuk Az-Zahra, yang cemerlang : Batul, Perawan, Kaniz, Gadis, Ma’shumah. Terlindung dari dosa. Dan banyak lagi yang menjadi nama-nama yang sangat popular bagi gadis-gadis dari kalangan syiah. Lagi pula, dia bukan hanya perantara bagi semua orang yang meratapi putranya, Husen tapi dalam lingkungan spekulasi mistik, dia juga di anggap sebagai “ummu abihah”, ibu dari ayahnya.
Kisah demi kisah diceritakan tentang Fathimah. Cerita-cerita tentang kemiskinan yag dideritanya,secara khusus melambangkan fantasi dari orang-orang sholeh, yang bagi mereka sesungguhnya, dia merupakan ratu ummat manusia. Sebuah genre sastra yang dikenal sebagai “Mahar Fathimah” (jihaznama-I Fathimah) menyebutkan satu dari satu barang-barang sederhana yang dapat diberikan kepada ayahnya sebagai maskawin, kedermawanannya kepada kaum miskin (bahkan ketika keluarganya sendiri tengah kelaparan), keinginan putranya sendiri untuk memiliki pakaian- dan semua ini diceritakan dan terus dibumbui, sehingga fathimah menjadi teladan bagi gadis-gadis muslim. Sesunguhnya di Abad pertengahan, bahkan ada sebuah madzhab yang menyerahkan seluruh kekayaan keluarga mereka kepada anak-anak perempuan sebagai warisan.- dan semua itu sebagai penghormatan untuk Fathimah. Pemuliaan terhadapnya juga menonjol di kalangan sunni. Apakah kita akan membaca karya penghormatan Muhammad Iqbal (1877-1938M) kepada Fathimah ke dalam epik Persianya yang ditulis pada tahun 1927M Rumuz-ibe-khudi (Misteri sikap tidak mementingkan diri) (sebuah buku yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan mengenai sikap-sikapnya sebagai penganut ajaran Sunni), atau apakah kita membaca karya ‘Ali Syari’ati, Fathimah adalah Fathimah, yang muncul pada masa revolusi Iran- yang kita dengar adalah kata-kata pujian yang sangat menyentuh hati untuk wanita muslim yang paling dihormati dan paling saleh. Hanya satu orang keturunan dari kedua putranya yang dapat menyatakan dirinya sebagai sayyid, sebab hak ini tidak diberikan kepada keturunan anak-anak Ali yang lain dan istri-istrinya yang lain.
Hampir semua orang akan setuju dengan Sana’I (w.1131 di Ghazna, kini Afganistan), yang bernyanyi:
Dunia ini penuh dengan kaum wanita
Namun dimanakala ada seorang wanita seperti Fathimah
Wanita yang paling baik?
Sebab nama penghormatan wanita paling baik, khairun-nisa’, di kemudian hari diberikan bukan hanya kepada Khadijah melaikan juga kepada anak perempuannya yang bungsu ini.
Dilingkungan para ahli mistik juga ada orang-orang yang menganggap nama Maskulin, Fathir, sebagai “nama ilahiyah” yang pantas untuk Fathimah.
Berbagai sumber menceritakan banyak wanita yang dekat dengan Nabi. Beberapa di antara mereka pindah bersama keluarga mereka ke Etiopia pada tahun-tahun awal Islam. Sementara yang lain-lainnya seperti “ummu ‘Athiyah”, menemani Muhammad dan pasukannya dalam sejumlah peperangan dan merawat orang yang terluka. Juga dapat dimengerti, tentu saja, bahwa mereka ikut serta melakukan shalat di masjid. Sebab sebuah hadits menyatakan, “janganlah mencegah gadis-gadis pelayan Tuhan untuk memasuki tempat-tempat di mana Dia di sembah.” Bahkan khalifah kedua , Umar bin Khattab (memerintah 634-644H),harus menerima tradisi ini, meskipun tidak dengan senang hati. Penguasa ini dikenal karena kekerasan dan keadilannya yang mestinya lebih cenderung membela kaum wanita. Lagi pula, saudarinya telah memeluk agama Islam ketika dia masih menjadi penentang Nabi yang sangat gigih. Namun, ketika dia berniat membunuh gadis itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hatinya begitu bergerak oleh kata-kata yang dilantunkan adiknya sehingga dia segera menerima Islam. Dan selanjutnya dia menjadi pembela agama Islam yang paling bersemangat. Bahkan Rumi menceritakan secara panjang lebar perubahan sikap ini dalam karya prosanya, Fihi ma fihi.
Beberapa keturunan wanita lainnya dari Muhammad juga dikenal karena kesalihan mereka. Salah seorang dari mereka, Sayyidah Nafisah, sangat pantas untuk dikemukakan, buyut perempuan Nabi ini menikah denganputra imam keenam, Ja’far Ash-Shadiq (w. 765), dan pergi ke Kairo dengan saudara sepupunya, Sakinah.Di sana dia segera dikenal karena kesalihan esketisnya. Ahli sejarah Ibn Khallikun meriwayatkan dalam biografinya bahwa bahkan Imam Syafi’I, pendiri salah satu dari empat madzhab fiqih, dikatakan pernah membaca doa bersamanya. Berbagai mukjizat dengan sendirinya selalu menemaninya kemana pun dia pergi. Menurut salah satu cerita, air yang telah digunakannya untuk berwudlu dapat menyembuhkan seorang wanita Yahudi yang lumpuh. Ketika Nafisa meninggal pada 208/824H, sebuah makam yang indah dibangun untuk mengenangnya. Dan tempat itu dapat merupaka tujuan ziarah yang popular hingga sekarang. Di abad pertengahan, terutama pada periode Mamluk, para sultan merayakan hari kelahirannya secara besar-besaran di dalam Benteng Kairo.
Sejak semula perkataan Nabi yang dikutip pada awal bab ini dan juga banyaknya perkawinan yang di jalaninya. Menimbulkan ketidaksetujuannya dikalangan para ahli teologi Kristen- dan bukan hanya para ahli teologi saja. Bagaimana mungkin seorang pria menyatakan dirinya sebagai Nabi membiarkan dirinya tenggelam dalam hawa nafsu? Gagasann ini benar-benar mengerikan jika dihadapkan pada ajaran Kristen mengenai kesucian, pada ajaran salibat yang sejak pada masa awal dan selanjutnya berakar begitu kuat di dalam gereja. Namun kaum Muslim tidak melihat adanya kejahatan dalam hal ini. Sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai suatu ungkapan kegembiraan yang dapat ditemukan manusia di dunia indra,yang merupakan bagian dari ciptaan Tuhan.
Sebuah tafsir Indo-Muslim atas perkataan Nabi mengenai “kaum wanita” dan tafsir yang berasal dari orang suci besar dari Delhi,Nizamuddin Auliya, menyatakan bahwa kaum wanita, di sini mengacu secara khusus pada Aisyah, sedangkan “kebahagiaan bagi mataku” dikatakan sebagai acuan untuk Fathimah, yang sedang asyik shalat pada saat itu, (dan kebahagiaan bagi mataku [ yaitu Fathimah] ketka shalat).ini nampaknya lebih melantur, dan kita lebih mudah tergoda untuk mempercayai tafsir ibn ‘Arabi, yang mengatakan bahwa Nabi tidak menyayangi kaum wanita dikarnakan alasan-alasan alamiyah- tentu tidak dia menyayangi mereka karena Tuhan membuat mereka patut di sayang. Namun yang paling penting acuan pada wewangian, yang sering dikaitkan dengan unsure feminin di satu fihak dan kesucian difihak lain. Sebagai konsep maskulin tunggal dalam bahasa Arab, kata “wewangian” dalam perklataan ini di sisipkan antara dua kata benda feminine “kaum wanita” dan “salat”. Pengamatan ini sudah cukup memberikan kepada para sufi santapan yang tak habis-habisnya bagi pemikiran mengenai hubungan yang misterius ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar